Industri semen merupakan salah satu industri yang pertumbuhannya
cukup pesat, hal ini berkaitan dengan kapasitas produksi total pabrik semen
yang tersebar diberbagai wilayah nusantara mencapai 27 juta ton pertahun(1).
Semen (cement) adalah hasil industri dari paduan bahan baku : batu
kapur/gamping sebagai bahan utama dan lempung / tanah liat atau bahan
pengganti lainnya dengan hasil akhir berupa padatan berbentuk bubuk/bulk,
tanpa memandang proses pembuatannya, yang mengeras atau membatu pada
pencampuran dengan air. Batu kapur/gamping adalah bahan alam yang
mengandung senyawa Calcium Oksida (CaO), sedangkan lempung/tanah liat
adalah bahan alam yang mengandung senyawa : Silika Oksida (SiO2),
Alumunium Oksida (Al2O3), Besi Oksida (Fe2O3 ) dan Magnesium Oksida
(MgO). Untuk menghasilkan semen, bahan baku tersebut dibakar sampai
meleleh, sebagian untuk membentuk clinkernya, yang kemudian dihancurkan
dan ditambah dengan gips (gypsum) dalam jumlah yang sesuai.
Salah satu dampak negatif dari industri semen adalah pencemaran udara
oleh debu. Industri semen berpotensi untuk menimbulkan kontaminasi di
udara berupa debu. Debu yang dihasilkan oleh kegiatan industri semen terdiri
dari : debu yang dihasilkan pada waktu pengadaan bahan baku dan selama
proses pembakaran dan debu yang dihasilkan selama pengangkutan bahan
baku ke pabrik dan bahan jadi ke luar pabrik, termasuk pengantongannya.
Bahan pencemar tersebut dapat berpengaruh terhadap lingkungan dan
manusia. Berbagai faktor yang berpengaruh dalam timbulnya penyakit atau
gangguan pada saluran pernapasan akibat debu. Faktor tersebut adalah faktor
debu yang meliputi ukuran partikel, bentuk konsentrasi, daya larut dan sifat
kimiawi. Faktor individual meliputi mekanisme pertahanan paru, anatomi
2
dan fisiologi saluran nafas serta faktor imunologis. Penilaian paparan pada
manusia perlu dipertimbangkan antara lain sumber paparan/jenis pabrik,
lamanya paparan, paparan dari sumber lain, aktifitas fisik dan faktor penyerta
yang potensial seperti umur, gender, etnis, kebiasaan merokok, faktor
allergen (2).
Penyakit paru akibat debu industri mempunyai gejala dan tanda yang
mirip dengan penyakit paru yang lain yang tidak disebabkan oleh debu di
lingkungan kerja. Penegakan diagnosis perlu dilakukan anamnesa yang teliti
meliputi riwayat pekerjaan dan hal-hal lain yang berhubungan dengan pekerja,
karena penyakit baru timbul setelah paparan yang cukup lama(3).
PT. Semen Tonasa merupakan pabrik semen yang didirikan di
Kawasan Indonesia Timur tepatnya di Sulawesi Selatan yang terletak di desa
Tonasa, kecamatan Balocci, kabupaten Pangkep yang memiliki tiga unit
pabrik. Unit II dan III masing-masing berkapasitas 510.000 ton/pertahun dan
590.000 ton/pertahun sedangkan unit IV berkapasitas 2.300.000 ton/tahun.
Dan jenis semen yang diproduksi oleh PT. Semen Tonasa seperti : semen
portland type I, semen campur (PMC), semen portland pozzolan (PPC),
semen porland type II, semen portland type V, semen abu terbang (4) .
Pabrik semen merupakan salah satu industri yang menghasilkan debu.
Sebuah studi epidemiologi pada sebuah pabrik semen di Dar es Salaam
Tansania, mengukur tingkat paparan debu. Dan ditemukan tingkat paparan
debu yang tinggi pada cranes (38,64 mg m-3), packing (21,30 mg m-3), crusher
(13,48 mg m-3), paparan debu yang rendah pada cement mill (3,23 mg m-3),
kiln (2,87 mg m-3), raw mill (1,85 mg m-3), maintenance (1,16 mg m-3) dan
administrasi (0,29 mg m-3) (5) . Sedangkan sebuah studi epidemiologi pada
sebuah pabrik semen di Cibinong Cilacap, meneliti hubungan Total Suspended
Particulate (TSP) dengan fungsi paru pekerja di lingkungan industri. Kadar
total suspended particulate (TSP) yang tinggi di temukan pada cement mill
CP.I (14,54 mg/m3), cement mill CP.I (18,05mg/m3), kadar TSP yang rendah
pada packing (4,35 mg/m3), dan terendah pada pos Djuanda (0,03mg/m3).
Dan berdasarkan hasil pengukuran fungsi paru menunjukkan bahwa 31,6%
3
responden mempunyai fungsi paru normal dan sisanya 64,4% telah mengalami
gangguan fungsi paru (6) .
Berbagai penelitian yang dilakukan berhubungan dengan fungsi paru,
dilaporkan bahwa pada penambangan pasir dan pemecah batu kelainan paru
dapat terjadi setelah terpapar 1-3 tahun, pada industri keramik gejala klinik
umumnya timbul setelah 5 tahun (7), pada industri penggilingan padi
gangguan paru umumnya terjadi setelah terpapar 5 tahun (8), pada industri
pengolahan kayu gangguan paru umumnya terjadi setelah terpapar 5-6
tahun (9).
Berdasarkan laporan hasil pemantauan lingkungan oleh seksi Hiperkes
pada bulan Agustus 2005 diketahui pencemaran debu di lokasi pabrik semen
Tonasa II/III 0,023 mg/m, pengukuran ini dilakukan di halaman pabrik dengan
jarak kurang lebih 50 meter dari sumber polutan, lama pengukuran 60 menit
dan cuaca cerah (10). Hasil tersebut masih dibawah batas normal menurut
menteri Tenaga Kerja Nomor : SE-01/Men/1997/tentang Nilai Ambang Batas
Faktor Kimia di Udara Lingkungan Kerja sebesar 10 mg/m3.
Berdasarkan laporan pola penyakit dari Rumah Sakit PT. Semen
Tonasa selama 5 tahun (tahun 2000-2004) penyakit saluran pernapasan
menduduki peringkat pertama. Periode tahun 2000 prosentase penyakit saluran
pernapasan 57,3 %. Periode tahun 2001 prosentase penyakit saluran
pernapasan 60,6%. Periode 2002 prosentase penyakit saluran pernapasan
60,4%. Periode tahun 2003 prosentase penyakit saluran pernapasan 49,9%.
Periode tahun 2004 prosentase penyakit saluran pernapasan 47,2% (11).
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan dapat diketahui adanya
bahan-bahan kimia di udara dapat berpengaruh terhadap kesehatan. Tingginya
penyakit saluran pernapasan (47,2%, tahun 2004) di PT. Semen Tonasa dapat
dijadikan sebagai bukti awal adanya gangguan fungsi paru pada karyawan.
Atas dasar itulah perlu di lakukan penelitian dengan judul :
” Gangguan fungsi paru dan faktor-faktor yang mempengaruhinya pada
karyawan PT.Semen Tonasa Pangkep Sulawesi-Selatan”.
4
B. Perumusan Masalah
Dari seluruh karyawan PT. Semen Tonasa pada tahun 2004 yang
mengalami penyakit saluran pernapasan sebanyak 47,2% yang terdiri dari
Influenza 33,3% dan Infeksi Saluran Napas Akut 13,9%. Sehubungan dengan
hal tersebut, maka pertanyaan penelitian ini adalah :
”Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi gangguan fungsi paru pada
karyawan di PT. Semen Tonasa ? ”.
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Mengukur fungsi paru karyawan dan faktor-faktor yang mempengaruhinya
di PT.Semen Tonasa.
2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi karakteristik karyawan (umur, status gizi, masa kerja,
lama paparan, jenis pekerjaan, penggunaan APD, kebiasaan merokok,
dan kebiasaan berohlaga).
b. Mengukur kadar debu total di area kerja PT. Semen Tonasa.
c. Mengukur fungsi paru pada karyawan yang berada di area kerja PT.
Semen Tonasa sekitar lokasi pemeriksaan kadar debu total.
d. Menganalisis faktor umur dengan ganggguan fungsi paru.
e. Menganalisis faktor status gizi dengan gangguan fungsi paru.
f. Menganalisis faktor masa kerja dengan gangguan fungsi paru.
g. Menganalisis faktor lama paparan dengan gangguan fungsi paru.
h. Menganalisis faktor penggunaan APD dengan ganguan fungsi paru.
i. Menganalisis faktor kebiasaan merokok dengan gangguan fungsi paru.
j. Menganalisis faktor kebiasaan berolahraga dengan gangguan fungsi
paru.
k. Menganalisis faktor kadar debu total dengan gangguan fungsi paru
l. Menganalisis faktor suhu lingkungan di area kerja dengan gangguan
fungsi paru.
5
m. Menganalisis faktor kelembaban lingkungan di area kerja dengan
gangguan fungsi paru.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat bagi tenaga kerja : menambah pengetahuan pekerja dalam upaya
melindungi diri akibat dampak pencemaran debu bagi kesehatan.
2. Manfaat bagi perusahaan :sebagai masukan untuk bahan pertimbangan
dalam menentukan kebijakan dalam upaya meningkatkan derajat
kesehaan pekerja, meningkatkan efisiensi dalam pengeluaran pembiayaan
kesehatan.
3. Manfaat bagi lingkungan : mengurangi pencemaran debu di lingkungan
perusahaan secara lebih dini.
E. Ruang Lingkup Penelitian
1. Lingkup Keilmuan
Penelitian ini merupakan salah satu bagian dari ilmu kesehatan masyarakat
khususnya kesehatan lingkungan industri.
2. Lingkup materi
Masalah yang di angkat dalam penelitian ini adalah masalah gangguan
fungsi paru pada karyawan di PT. Semen serta faktor-faktor yang
mempengaruhinya.
3. Lingkup Lokasi
Penelitian ini dilakukan pada industri PT. Semen Tonasa
F. Keaslian Penelitian
Penelitian terdahulu yang mendukung adalah penelitian oleh Adi
Setiawan (2002) tentang : ”Hubungan Kadar Total Suspended Particulate
(TSP) dengan Fungsi paru di Lingkungan Industri Semen Cibinong Cilacap”,
dengan hasil bahwa kadar TSP di lingkungan industri semen Cibinong Cilacap
tertinggi pada area Cement mill CP(18,05 mg/m3) dan terendah pada Pos
Djuanda (0,03 mg/m3), 31,6% responden mempunyai fungsi paru normal
sedangkan sisanya 68,4 % mengalami gangguan fungsi paru, besarnya rasio
prevalensi (RP) pada paparan TSP tinggi dengan paparan TSP rendah di
6
lingkungan industri semen Cibinong Cilacap terhadap terjadinya gangguan
fungsi paru pekerja adalah 1,12.
Perbedaaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah:
penelitian ini dilakukan dengan menitik beratkan kadar debu semen di
lingkungan area kerja, mengidentifikasi karakteristik karyawan serta
menganalisis karakteristik karyawan dan faktor lingkungan terhadap kejadian
gangguan fungsi paru pada karyawan PT. Semen Tonasa Pangkep Sulawesi
Selatan, dan penelitian ini belum pernah dilakukan di Kabupaten Pangkep.
7
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pencemaran Udara
Pencemaran udara diartikan sebagai adanya bahan-bahan atau zat-zat
asing di dalam udara yang menyebabkan perubahan susunan (komposisi)
udara dari keadaan normalnya. Kehadiran bahan atau zat dalam udara dalam
jumlah tertentu serta berada di udara dalam waktu yang cukup lama, akan
mengganggu kehidupan manusia, hewan dan tumbuhan.
Udara merupakan campuran beberapa macam gas yang
perbandingannya tidak tetap, tergantung pada keadaan suhu udara, tekanan
udara dan lingkungan sekitarnya. Udara adalah juga atmosfir yang berada di
sekeliling bumi yang fungsinya sangat penting bagi kehidupan di dunia ini.
Dalam udara terdapat oksigen (O2) untuk bernafas, karbondioksida (CO2)
untuk proses fotosintesis oleh khlorofil daun dan ozon (O3) untuk menahan
sinar ultra violet.
Sebagian besar udara dalam lapisan troposfer selalu berputar-putar dan
terus bergerak, menjadi panas oleh sinar matahari, kemudian bergerak lagi
diganti oleh udara dingin yang akan menjadi panas kembali, begitu seterusnya.
Proses fisik tersebut menyebabkan terjadinya pergerakan udara dalam lapisan
troposfer, dan merupakan faktor utama untuk mendeteksi iklim dan cuaca di
permukaan bumi. Di samping itu pergerakan udara tersebut juga dapat
mendistribusikan bahan kimia pencemar dalam lapisan troposfer.
Bila udara bersih bergerak di atas permukaan bumi, udara tersebut
akan membawa sejumlah bahan kimia yang dihasilkan oleh proses alamiah
dan aktifitas manusia. Sekali bahan kimia pencemar masuk ke dalam lapisan
troposfer, bahan pencemar tersebut bercampur dengan udara dan terbawa
secara vertikal dan horisontal serta bereaksi secara kimiawi dengan bahan
lainnya di dalam atmosfer. Dalam mengikuti gerakan udara, polutan tersebut
menyebar, tetapi polutan yang dapat tahan lama akan terbawa dalam jarak
8
yang jauh dan jatuh ke permukaan bumi menjadi partikel-partikel padat dan
larut dalam butiran-butiran air serta mengembun jatuh ke permukaan bumi.
Berat ringannya suatu pencemaran udara di suatu daerah sangat
bergantung pada iklim lokal, topografi, kepadatan penduduk, banyaknya
industri yang berlokasi di daerah tersebut, penggunaan bahan bakar dalam
industri, suhu udara panas di lokasi, dan kesibukan transportasi. Dalam suatu
daerah yang tinggi lokasinya dari permukaan laut (pegunungan), curah hujan
akan sangat membantu proses pembersihan udara.di samping itu angin yang
kencang dapat pula menyapu polutan udara ke daerah lain yang lebih jauh.
Tempat yang tinggi dapat menghambat tiupan angin dan mencegah
terjadinya pengenceran kandungan udara polutan. Pada waktu siang hari, sinar
matahari menghangatkan udara di permukaan bumi. Udara panas tersebut
akan merambat ke atas sehingga udara yang mengandung polutan di
permukaan bumi akan terbawa ke atas, ke dalam troposfer. Udara bertegangan
tinggi akan bergerak ke udara yang bertegangan rendah sambil membawa
udara polutan tersebut, sehingga pencemaran udara dari lokasi tersebut akan
berkurang.
Secara umum penyebab pencemaran udara ada 2 macam, yaitu:
1. Karena faktor internal (secara alamiah), contoh :
a. Debu yang beterbangan akibat tiupan angin.
b. Abu (debu) yang dikeluarkan dari letusan gunung berapi berikut gasgas
vulkanik.
c. Proses pembusukan sampah organik, dll.
2. Karena faktor eksternal (karena ulah manusia), contoh:
a. Hasil pembakaran bahan bakar fosil.
b. Debu/serbuk dari kegiatan industri.
c. Pemakaian zat-zat kimia yang disemprotkan ke udara (12) .
Debu adalah partikel yang dihasilkan oleh proses mekanis seperti
penghancuran batu, pengeboran, peledakan yang dilakukan pada tambang
timah putih, tambang besi, tambang batu bara, diperusahaan tempat
menggurinda besi, pabrik besi dan baja dalam proses sandblasting dan lain9
lain. Debu yang terdapat dalam udara terbagi dua yaitu deposit particulate
matter yaitu partikel debu yang berada sementara di udara, partikel ini segera
mengendap akibat daya tarik bumi, dan suspended particulate matter yaitu
debu yang tetap berada di udara dan tidak mudah mengendap. Deposit
particulate metter dan suspended particulate matter sering juga disebut debu
total.
Sifat-sifat debu adalah :
1. Sifat pengendapan
Adalah sifat debu yang cenderung selalu mengendap karena gaya grafitasi
bumi. Namun karena kecilnya kadang-kadang debu ini relatif tetap berada
di udara. Debu yang mengendap dapat mengandung proporsi partikel yang
lebih dari pada yang ada diudara.
2. Sifat Permukaan Basah
Sifat permukaan debu akan cenderung selalu basah, dilapisi oleh lapisan
air yang sangat tipis. Sifat ini penting dalam pengendalian debu dalam
tempat kerja.
3. Sifat Penggumpalan
Oleh karena permukaan debu selalu basah, sehingga dapat menempel satu
sama lain dan dapat menggumpal. Kelembaban di bawah saturasi kecil
pengaruhnya terhadap penggumpalan debu. Akan tetapi bila tingkat
humiditas di atas titik saturasi mempermudah penggumpalan. Oleh karena
partikel debu bisa merupakan inti dari pada air yang berkonsentrasi,
partikel jadi besar.
4. Sifat Listrik Statik
Debu mempunyai sifat listrik statis yang dapat menarik partikel lain yang
berlawanan. Dengan demikian, partikel dalam larutan debu mempercepat
terjadinya proses penggumpalan.
5. Sifat Opsis
Debu atau partikel basah/lembab lainnya dapat memancarkan sinar yang
dapat terlihat dalam kamar gelap.
10
Debu tambang didefinisikan sebagai zat padat yang terbagi halus.
Partikel-partikel zat padat atau cairan yang berukuran sangat kecil di dalam
medium gas atau udara disebut aerosol misalnya asap, kabut dan debu dalam
udara.
Agar dapat mengendalikan zat-zat berbutir dalam udara tambang
dengan baik, maka perlu dipahami sifat-sifat dasar sebagai berikut :
1. Zat-zat berbutir, baik cairan maupun padat yang menunjukkan kelakuan
yang serupa apabila dikandung dalam udara.
2. Butiran-butiran debu baik yang mengakibatkan penyakit maupun
ledakan/mudah terbakar berukuran <10mikron. Butiran-butiran yang
berukuran <5 mikron diklasifikasikan sebagai debu terhirup (respirable
dust).
3. Butiran-butiran >10 tidak tinggal lama di dalam suspensi aliran udara.
4. Debu-debu tambang dan industri mempunyai karakteristik berukuran
sangat kecil, antara 0,5-3 mikron. Aktifitas kimianya meningkat dengan
semakin berkurangnya ukuran butir.
5. Debu di bawah ukuran 19 mikron yang menyebabkan akibat serius
terhadap kesehatan tidak mempunyai berat yang berarti atau lamban
(inertia), dengan demikian dapat tinggal sebagai suspensi dalam udara dan
mustahil dapat mengendap dari aliran udara.
6. Untuk mengendalikan debu halus tersebut (<10 mikron) yang telah
mengapung di dalam udara, memerlukan pengontrolan aliran udara dimana
debu bersuspensi (13) .
Debu dapat dikelompokkan berdasarkan akibat fisiologisnya terhadap
tenaga kerja. Klasifikasi debu berdasarkan tingkat bahayanya yaitu :
1. Debu fibrogenik (bahaya terhadap sistem pernapasan).
Contoh : silika (kwarsa, chert), silicate (asbestos, talk, mica, silimate),
metal fumes, biji beryllium,bijih timah putih, beberapa biji besi,
carborundum, batu bara (anthracite, bituminous).
2. Debu karsinogenik (penyebab kanker)
Contoh : debu hasil peluruhan radon, asbestos, arsenik.
11
3. Debu-debu beracun (toksik terhadap organ/jaringa tubuh).
Contoh : bijih beryllium, arsen, timbal, uranium radium, torium,
chromium, vanadium, mercury , cadmium, antimony, selenium, mangan,
tungsten, nikel dan perak.
4. Debu radioaktif (berbahaya karena radiasi alfa dan beta)
Contoh : bijih- bijih uranium, radium, torium.
5. Debu eksplosif
Contoh : debu-debu metal (magnesium,aluminium, zinc, timah putih,
besi), batu bara (bituminous,lignite), bijih-bijih sulfida, debu-debu
organik.
6. Debu-debu pengganggu/nuisance dusts (mengakibatkan kerugian yang
ringan terhadap manusia).
Contoh : gypsum, koalin, batu kapur.
7. Inert dust/debu yang tidak bereaksi kimia dengan zat lain (tidak
mempunyai akibat pada paru-paru).
8. Respirable dust (debu yang dapat terhirup oleh manusia yang berukuran
dibawah 10 mikron).
9. Irrespirable dust (debu yang tidak dapat terhirup oleh manusia yang
berukuran diatas 10 mikron).
Semua debu apabila terdapat dalam jumlah yang berlebihan untuk
jangka waktu yang lama, dapat menyebabkan kerusakan patologis pada
manusia. Debu-debu dengan komposisi yang berbeda mempunyai efek yang
berbeda.
12
B. Anatomi Dan Fisiologi Alat Pernapasan
Fungsi pernapasan yang utama adalah untuk pertukaran gas.(14)
Gambar 2.1 : Saluran Pernapasan
Sumber : Price.S.A, Wilson.L.M. Patofisiologi Konsep Klinis Prosesproses
Penyakit Bagian 2 edisi 4. Buku Kedokteran EGC.
Jakarta, 1995. Hal 646.
Secara anatomi, fungsi pernapasan ini dimulai dari hidung sampai ke
parenkim paru(14) .
Secara fungsional saluran pernapasan dibagi atas bagian yang
berfungsi sebagai konduksi (pengantar gas) dan bagian yang berfungsi
sebagai respirasi (pertukaran gas). Pada bagian konduksi, udara seakan-akan
bolak-balik diantara atmosfir dan jalan nafas. Oleh karena itu, bagian ini
seakan-akan tidak berfungsi, dan disebut dengan ”dead space”. Akan tetapi
fungsi tambahan dari konduksi, seperti proteksi dan pengaturan kelembaban
udara, justru dilakukan pada bagian ini. Adapun yang termasuk ke dalam
13
konduksi ini adalah rongga hidung, rongga mulut, faring, laring, trakea, sinus
bronkus dan bronkiolus nonrespiratorius.
Pada bagian respirasi akan terjadi pertukaran udara (difus) yang sering
disebut dengan unit paru (lung unit), yang terdiri dari bronkiolus respiratorius,
duktus alveolaris, atrium dan sakus alveolaris.
Bila ditinjau dari traktus respiratorius, maka yang berfungsi sebagai
konduksi adalah trakea, bronkus utama, bronkus lobaris, bronkus segmental,
bronkus subsegmental, bronkus terminalis, bronkiolus, bronkiolus
nonrespiratorius. Sedangkan yang bertindak sebagai bagian respirasi adalah
bronkiolus respiratorius, bronkiolus terminalis, duktus alveolaris,sakus
alveolaris dan alveoli.
Gambar 2.2: Sistemetika Percabangan Trakeabronkial.
Sumber : Scott.R.M, Industrial Hygine. Lewis Publishers, USA, 1995. hal
167
Saluran pernapasan dari hidung sampai bronkiolus dilapisi oleh
membran mukosa yang bersilia. Ketika udara masuk ke dalam rongga hidung,
udara tersebut disaring, dihangatkan dan dilembabkan. Ketiga proses ini
merupakan fungsi utama dari mukosa respirasi yang terdiri dari epitel toraks
14
bertingkat, bersilia, dan bersel goblet. Permukaan epitel diliputi oleh lapisan
mukus yang disekresi oleh sel goblet dan kelenjar serosa. Partikel-partikel
debu yang kasar dapat disaring oleh rambut-rambut yang terdapat dalam
lubang hidung, sedangkan partikel yang halus akan terjaring dalam lapisan
mukus. Gerakan silia akan mendorong lapisan mukus ke posterior di dalam
rongga hidung, dan ke superior di dalam sistem pernapasan bagian bawah
menuju ke faring. Dari sini lapisan mukus akan tertelan atau dibatukkan
keluar. Air untuk kelembaban diberikan oleh lapisan mukus sedangkan panas
yang disuplai ke udara inspirasi berasal dari jaringan di bawahnya yang kaya
akan pembuluh darah. Jadi udara inspirasi telah disesuaikan sedemikian rupa
sehingga bila udara mencapai faring hampir bebas debu, bersuhu tubuh, dan
kelembabannya mencapai 100%.(15)
Udara mengalir dari faring menuju laring atau kotak suara. Laring
merupakan rangkaian cincin tulang rawan yang dihubungkan oleh otot dan
mengandung pita suara. Di antara pita suara terdapat ruang berbentuk segi tiga
yang bermuara di dalam trakea dinamakan glotis. Glotis merupakan pemisah
antara saluran pernapasan bagian atas dan bawah. Meskipun laring terutama
dianggap berhubungan dengan fonasi, tetapi fungsinya sebagai pelindung jauh
lebih penting. Pada waktu menelan gerakan laring ke atas, penutupan glotis,
dan fungsi sebagai penutupan pintu pada aditus laring, dari epiglotis yang
berbentuk daun, berperanan untuk mengerahkan makanan dan cairan masuk
ke dalam esofagus. Namun jika benda asing masih mampu masuk melampaui
glotis, maka laring yang mempunyai fungsi batuk akan membantu
mengeluarkan benda dan sekret keluar dari saluran pernapasan bagian bawah.
Trakea disokong oleh cincin tulang rawan yang berbentuk seperti
sepatu kuda yang panjangnya kurang lebih 5 inci. Permukaan posterior agak
pipih (karena cincin tulang rawan di situ tidak sempurna), dan letaknya tepat
di depan esofagus. Tempat di mana trakea bercabang menjadi bronkus utama
kiri dan kanan dikenal sebagai karina. Karina memiliki banyak saraf dan dapat
menyebabkan bronkospasme dan batuk yang kuat jika dirangsang.
15
Paru-paru adalah dua organ yang berbentuk seperti bunga karang besar
yang terletak di dalam torak pada sisi lain jantung dan pembuluh darah besar.
Paru-paru memanjang mulai dari dari akar leher menuju diagfragma dan
secara kasar berbentuk kerucut dengan puncak di sebelah atas dan alas di
sebelah bawah.(14)
Diantara paru-paru mediastinum, yang dengan sempurna memisahkan
satu sisi rongga torasik sternum di sebelah depan. Di dalam mediastinum
terdapat jantung, dan pembuluh darah besar, trakea dan esofagus, dustuk
torasik dan kelenjar timus. Paru-paru dibagi menjadi lobus-lobus. Paru-paru
sebelah kiri mempunyai dua lobus, yang dipisahkan oleh belahan yang miring.
Lobus superior terletak di atas dan di depan lobus inferior yang berbentuk
kerucut. Paru-paru sebelah kanan mempunyai tiga lobus. Lobus bagian bawah
dipisahkan oleh fisura oblik dengan posisi yang sama terhadap lobus inferior
kiri. Sisa paru lainnya dipisahkan oleh suatu fisura horisontal menjadi lobus
atas dan lobus tengah. Setiap lobus selanjutnya dibagi menjadi segmensegmen
yang disebut bronko-pulmoner, mereka dipisahkan satu sama lain oleh
sebuah dinding jaringan koneknif , masing-masing satu arteri dan satu vena.
Masing-masing segmen juga dibagi menjadi unit-unit yang disebut lobulus.
Gambar 2.3 : Diagram Yang Memperlihatkan Lolobus Paru
Sumber : Watson.R. Anatomi Dan Fisiologi. Ed 10. Buku Kedokteran ECG.
Jakarta,2002. Hal 303
Bronkus utama kiri dan kanan tidak simetris. Bronkus kanan lebih
pendek dan lebih lebar dan merupakan kelanjutan dari trakea yang arahnya
16
hampir vertikal. Sebaliknya bronkus kiri lebih panjang dan lebih sempit dan
merupakan kelanjutan dari trakea dengan sudut yang lebih tajam. Benda asing
yang terhirup lebih sering tersangkut pada percabangan bronkus kanan karena
arahnya yang vertikal.
Cabang utama bronkus kanan dan kiri bercabang lagi menjadi bronkus
lobaris dan kemudian bronkus segmentalis. Percabangan ini berjalan terus
menjadi bronkus yang ukurannya semakin kecil sampai akhirnya menjadi
bronkiolus terminalis, yaitu saluran udara terkecil yang tidak mengandung
alveoli (kantung udara). Bronkiolus tidak diperkuat oleh cincin tulang rawan,
tetapi disusun oleh muskulus, fibrosa dan jaringan elastis yang dihubungkan
dengan kuboit epitelium. Bronkiolus terminalis bercabang secara berulang
untuk membentuk saluran yang disebut duktus alveolar. Di sinilah kantong
alveolar dan alveoli terbuka. Alveoli dikelilingi suatu jaringan kapiler. Darah
yang mengalami deoksigenasi memasuki jaringan kapiler arteri pulmoner dan
darah yang mengandung oksigen meninggalkan alveoli untuk memasuki vena
pulmoner. Di jaringan pipa kapiler ini berlangsung pertukaran gas antara udara
di dalam alveoli dan darah di dalam pembuluh darah.
Gambar 2.4 : Diagram Alveolus
Sumber : Watson.R. Anatomi Dan Fisiologi. Ed 10. Buku Kedokteran ECG,
Jakarta, 2002. Hal 305.
Setelah bronkiolus terminalis terdapat asinus yang merupakan unit
fungsional paru-paru, yaitu tempat pertukaran gas. Asinus atau kadang-kadang
disebut lobulus primer. Asinus terdiri dari:
17
1. bronkiolus respiratorius, yang terkadang memiliki kantong udara kecil
atau alveoli pada dindingnya
2. duktus alveolaris, seluruhny adibatasi oleh alveolus
3. sakus alveolaris terminalis, merupakan struktur akhir paru-paru.
Terdapat sekitar 23 kali percabangan mulai dari trakea sampai sakus
alveolaris terminalis. Alveolus (dalam kelompokan sakus alveolaris yang
menyerupai anggur, yang membentuk sakus terminalis) dipisahkan dari
alveolus di dekatnya oleh dinding tipis atau septum. Lubang kecil pada
dinding ini dinamakan pori-pori kohn. Lubang ini memungkinkan komunikasi
antar sakus alveolaris terminalis. Alveolus hanya mempunyai satu lapis sel
saja yang diameternya lebih kecil dibandingkan dengan diameter sel darah
merah. Dalam setiap paru-paru terdapat sekitar 300 juta alveolus dengan luas
permukaan total seluas lapangan tenis.
Gambar 2.5 : Alveoli
Sumber : Tabrani.R.H. Prinsip Gawat Paru. Buku Kedokteran ECG.
Jakarta,1996. Hal 13.
Alveolus merupakan gelembung gas yang dikelilingi oleh jalinan
kapiler, maka batas antara cairan dan gas membentuk suatu tegangan
permukaan yang cenderung mencegah pengembangan pada waktu inspirasi
dan cenderung kolaps pada waktu ekspirasi. Alveolus dilapisi zat lipoprotein
yang dinamakan surfaktan, yang dapat mengurangi tegangan permukaan dan
mengurangi resistensi terhadap pengembangan waktu inspirasi dan mencegah
18
kolaps alveolus pada waktu ekspirasi. Pembentukan surfaktan oleh sel
alveolus (tipe II) tergantung dari beberapa faktor, termasuk kematangan sel-sel
alveolus dan sistem enzim biozintetiknya, kecepatan pergantian yang normal,
ventilasi yang memadai dan aliran darah ke dinding alveolus. Surfaktan
merupakan faktor penting dan berperan sebagai pathogenesis beberapa
penyakit rongga dada. (15)
Anderson (16) menyatakan bahwa diluar bronkiolus terminalis terdapat
asinus sebagai unit fungsional paru yang merupakan tempat pertukaran gas,
asinus tersebut terdiri dari bronkiolus respiratorius yang mempunyai alveoli.
Duktus alveolaris yang seluruhnya dibatasi oleh alveolus dan sakus alveolaris
terminalis, merupakan struktur akhir paru-paru. (17)
Hilum adalah cekungan berbentuk segitiga pada permukaan medial
cekung paru-paru. Struktur yang membentuk akar paru memasuki dan
meninggalkan hilum, yang terletak sejajar vertebra torasik kelima sampai
ketujuh. Struktur ini mencakup bronkus utama, arteri pulmoner, vena
bronkiolus, dan pembuluh darah limfatik, yang meninggalkan akar paru-paru.
Terdapat juga banyak nodus limfe di sekitar akar paru-paru. (14)
Pleura adalah suatu membran serosa yang mengelilingi paru-paru.
Pleura disusun oleh sel-sel epitel datar pada dasar membran dan memiliki dua
lapisan. Pleura viseral melekat kuat pada paru-paru, melapisi permukaan paruparu
dan masuk ke dalam fisura inter-lobus. Pada akar paru, lapisan viseral
direflekasikan kembali menjadi lapisan parietalis yang menghubungkan
dinding dada dan membungkus lapisan diagfragma superior. Kedua lapisan
pleura tersebut bersentuhan. Dinding yang satu dengan dinding lainnya hanya
dipisahkan oleh satu film cair yang memungkinkan mereka menggelinding
satu sama lain tanpa terjadi gesekan. Ruang yang terdapat di antara lapisan ini
disebut rongga pleura. (14)
19
Gambar 2.6 : Diagram Pleura
Sumber : Watson.R. Anatomi Dan Fisiologi. Ed 10. Buku Kedokteran ECG.
Jakarta,2002. Hal 306.
Menurut Rahajoe dkk, (1994) fungsi utama paru adalah sebagai alat
pernapasan yaitu melakukan pertukaran udara (ventilasi), yang bertujuan
menghirup masuknya udara dari atmosfer kedalam paru-paru (inspirasi) dan
mengeluarkan udara dari alveolar ke luar tubuh (ekspirasi) (18). Fungsi
pernapasan ada dua yaitu sebagai pertukaran gas dan. pengaturan
keseimbangan asam basa(13). Pernapasan dapat berarti pengangkutan oksigen
(O2) ke sel dan pengangkutan CO2 dari sel kembali ke atmosfer. Menurut
Guyton proses ini terdiri dari 4 tahap yaitu ;
a). Pertukaran udara paru, yang berarti masuk dan keluarnya udara ke dan dari
alveoli. Alveoli yang sudah mengembang tidak dapat mengempis penuh,
karena masih adanya udara yang tersisa didalam alveoli yang tidak dapat
dikeluarkan walaupun dengan ekspirasi kuat. Volume udara yang tersisa
ini disebut volume residu. Volume ini penting karena menyediakan O2
dalam alveoli untuk mengaerasikan darah.
b). Difusi O2 dan CO2 antara alveoli dan darah.
c). Pengangkutan O2 dan CO2 dalam darah dan cairan tubuh menuju ke dan
dari sel-sel.
d). Regulasi pertukaran udara dan aspek-aspek lain pernapasan (19).
20
Gambar 2.7 : pertukaran gas
Sumber : Tabrani.R.H. Prinsip Gawat Paru. Buku Kedokteran ECG.
Jakarta,1996. Hal 21.
Gambar 2.8 : pertukaran gas
Sumber : Tabrani.R.H. Prinsip Gawat Paru. Buku Kedokteran ECG.
Jakarta,1996. Hal 21.
Menurut Rahajoe dkk (1994), dari aspek fisiologis, ada dua macam
pernapasan yaitu :
a). Pernapasan luar (eksternal respiration), yaitu penyerapan O2 dan
pengeluaran CO2 dalam paru-paru.
b). Pernapasan dalam (internal respiration) yang aktifitas utamanya adalah
pertukaran gas pada metabolisme energi yang terjadi dalam sel.
Ditinjau dari aspek klinik yang dimaksud dengan pernapasan pada
umumnya adalah pernapasan luar.
Untuk melakukan tugas pertukaran udara, organ pernapasan disusun
oleh beberapa komponen penting antara lain :
a). Dinding dada yang terdiri dari tulang, otot dan saraf perifer
b). Parenkim paru yang terdiri dari saluran nafas, alveoli dan pembuluh
darah.
c). Pleura viseralis dan pleura parietalis.
d). Beberapa reseptor yang berada di pembuluh arteri utama.
Sebagai organ pernapasan dalam melakukan tugasnya dibantu oleh
sistem kardiovaskuler dan sistem saraf pusat. Sistem kardiovaskuler selain
mensuplai darah bagi paru (perfusi), juga dipakai sebagai media transportasi
O2 dan CO2 sistem saraf pusat berperan sebagai pengendali irama dan pola
pernapasan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar