Jakarta – Tak
hanya oleh sesama partai koalisi, sikap Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang
menolak penaikan harga BBM juga terus dicermati kalangan oposisi seperti Partai
Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
Wakil Ketua DPR dan Fraksi PDIP Pramono Anung
mengatakan apa,yang suah diputuskkan PKS,yaitu secara tegas mendukung untuk
menolak kenaikan harga BBM. Harus benar-benar diwujudkan dalam rapat paripurna
DPR hari ini. “Kalau para tokoh partai sudah menyatakan demikian (menolak
penaikan harga BBM) secara terbuka, tapi di paripurna nanti ternyata hasilnya
berbeda, tentu akan menjadi cacatan tersendiri, “ujar Pramono di Jakarta kemarin.
Diberitakan sebelumnya, PKS telah memberikan berbagai
pertimbangan dan opsi atas rencana penaikan harga BBM. Penolakan dan
pertimbangan tersebut disampaikan secara resmi dan tertulis kepada Presiden
Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai mitra koalisi. Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq
saat musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) PKS di Medan, Sumatera Utara Selasa
(27/3), dalam pernyataannya juga telah memberikan sinyal bahwa PKS siap untuk
berseberangan atau berada diluar pemerintahan jika harga BBM tetap di naikan.
Pramono melanjutkan, dalam sidang paripurna DPR hari
ini, Dewan akan menempuh dulu mekanisme musyawarah dalam mengambil keputusan
mengenai jadi tidaknya harga BBM dinaikkan. Bila titik temu tidak tercapai akan
dilakukan mekanisme voting.
Anggota Fraksi PKS DPR Hidayat Nurwahid menekankan
bahwa pihaknya tidak akan berubah sikap dalam paripurna hari ini. “Siapa PKS
sudah sangat jelas. Kalaupun voting, tentu semua anggota Fraksi PKS akan
menyatakan menolak rencana penaikan harga BBM. PKS tidak akan balik badan, “tegas anggota
Majelis Syura PKS itu.
Menurut dia, rencana penaikan harga BBM bersubsidi
hanya akan menyusahkan rakyat. Berbagai program kompensasi kepada rakyat, kata
dia, tidak akan banyak bermanfaat bagi rakyat miskin. “Bantuan seperti ini
tidak akan mungkin diberikan kepada seluruh masyarakat. Kita becermin pada
pengalaman sebelumnya. Apalagi kesiapan pemerintah terkait pendataan rumah
tangga sasaran tidak maksimal,”katanya.
Hidayat juga menyatakan bahwa sikap PKS ini merupakan
keberpihakan terhadap kaum ibu. Dia menjelaskan, kaum ibu akan semakin sulit
mengatur kebutuhan rumah tangga, terutama dalam urusan dapur, karena
barang-barang kebutuhan pasti akan ikut naik.
Sikap DPD
Penolakan terhadap rencana penaikkan harga BBM
bersubsidi juga datang dari alangan Dewan Perwakilan Daerah (DPR). Ketua DPD
Irman Gusman mengaku memahami kekecewaan masyarakat atas rencana penaikkan
harga BBM pemerinth pada 1 April mendatang. Menurut Irman, DPD aa bersama
masyarakat dan berusaha memperjuangkan aspirasi masyarakat. Hal ini dibuktikan
dengan hasil sidang paripurna DPD pada Kamis (15/3) yang secara resmi menolak
penaikan harga BBM.
“Melihat kondisi masyarakat di daerah-daerah yang
masih sulit, DPD telah menolak dan meminta pemerintah membatalkan penaikan
harga BBM. Keputusan resmi DPD ini sudah di sampaikan kepada DPR untuk
dijadikan bahan pertimbangan,”terangnya.
Mengenai aksi massa yang berlangsung beberapa hari
terakhir , Irman meminta para peserta
aksi melakukannya dengan tertib tanpa merusak fasilitas publik. Dia juga
meminta agar aparat tidak bertindak represif untuk menghindari kerusuhan.
Irman menyesalkan perusakan Kantor Perwakilan DPD di
Mamuju, Sulawesi Barat, yang dilakukan sejumlah massa demonstran pada Rabu
(28/3).
Atribut Parpol saat Demo
Sementara itu, pengamat politi dari Universitass
Hassanudin (Unhas) Makassar Hasarullah menilai penggunaan simbol atau atribut
parpol dalam demonstrasi penolakkan rencana penaikkan harga BBM telah merusak
citra partai itu sendiri.
Menurut dia, parpol memiliki arena permainan sendiri
dalam menyikapi kebijakan pemerintah yakni menyampaikan pendapat di parlemen
tanpa harus turun ke jalanan.
Pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
A Bakir Ihsan mengatakan, ada deviasi kebijakan dalam konteks penaikkan harga
BBM.
Menurut dia, penaikkan harga BBM merupakan persoalan
ekonomi , tapi keputusannya di ambil secara politik . Kenyataannya itu memeri
celah bagi partai politik untuk mencuri popularitas di mata rakyat dengan
menyatakkan menolak penaikan harga BBM.
Sementara itu , saat menutup Musyawarah Kerja Nasional
(Mukernas) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) 2012 di Medan , Rabu (28/3) malam,
Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq kembali menyatakkan bahwa partainya siap
berada di luar koalisi maupun tetap dalam koalisi pendukung pemerintah .
“Kami tidak
akan memuai bersebrangan (dengan pemerintah), tetapi jika kerja keras PKS telah
mengusik mereka , kami siap unuk tidak bersama lagi ,”tegas Luthfi dalam pidato
politiknya.
Dia lalu membeberkan hasil perolehan suara dalam beberapa
pemilu yang menunjukkan bahwa PKS tidak bergantung pada koalisi.
Pada pemilu 1999, PKS yang saat itu bernama Partai
Keadilan (PK) mampu meraih 7 kursi DPR . Perolehan suara PK yang pada Pemilu
2004 mengubah nama menjadi PKS sangat signifikan.
Ketika itu PKS mendapat 8.325.020 suara dengan 45
kursi di DPR .
Saat ini pemerintahan SBY-JK (2004-2009), PKS
memutuskan bergabung dalam koalisi pendukung pemerintah. Perolehan suara PKS
pada Pemilu 2009 bukannya naik, tapi justru menurun menjadi 8.206.995 suara
atau menyusut sekitar 100.000 suara.
Meski begitu, PKS mendapatkan 57 kursi di DPR.
“Artinya dengan tidak berkoalisi , respons masyarakat malah
lebih baik. Karena itu , Kami harus tetap solid dan bersama masyarakat untuk
kejayaan , yakni bangsa yang berkeadilan dan sejahtera ,” tegasnya yang
disambut takbir ribuan peserta mukernas.
Luthfi juga mengingatkan agar seluruh kader PKS
mempersiapkan diri terhadap cemoohan dari pihak lain .
Termasuk yang mengatakkan PKS plinplan , tak tahu
etika koalisi ataupun lainnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar